“Goblok!” diucapkan galak dan lantang. Suaranya cukup keras untuk menembus kaca jendela mobil besar mewahnya dan mobil mungil saya. Tak perlu menebak dua kali, jelas arah tujuannya, membuat saya serta merta membelokkan setir mobil, dan kemudian menepi. Turun menghampiri sumber suara tak menyenangkan tadi.
“Siapa yang goblok, hah?! Kalau ngomong jangan sembarangan. Nggak makan sekolahan ya?,” kini giliran saya yang berteriak sambil mengetuk-ngetuk jendela mobilnya. Tak kalah keras. Jelas yang dituju. Pengemudi tak sopan yang berhenti mendadak di tikungan sempit. Tak cukup menepi untuk menyisakan jalan buat mobil lain yang hendak lalu. Tak juga mau bergerak, walaupun sudah diberi tanda lampu, minta jalan. Yang keluar malah umpatan tak menyenangkan.
Kaca dibuka dari dalam. Seorang gadis manis di kursi penumpang depan tak kalah galaknya, “Jangan marah sama saya. Yang nyupir bukan saya. Tuh sudah turun. Lagi beli pulsa.”
Tak menunggu lama, saya hampiri kios penjual pulsa di pinggir jalan, “Mana yang punya mobil di depan itu?” “Saya. Kenapa?,” tanyanya menantang. Lelaki muda. Kira-kira dua puluhan. Sepertinya mahasiswa. Sedang mengisi pulsa. Huh, tentu pakai jatah uang saku dari orang tua.
Kelanjutannya bisa ditebak. Adu mulut, ngotot-ngototan antara dua orang manusia yang sama-sama sedang terbakar emosi. Merasa diri yang paling benar. Orang banyak berkerumun, menonton adegan silat lidah saya dan anak muda itu. Yang baru datang menanyakan kepada yang sudah lebih dulu datang, ada apa gerangan. Yang sudah datang menjelaskan menurut versi jagoannya masing-masing. Yang jadi pusat perhatian, tidak peduli.
Ibu si pemuda yang ternyata dari tadi duduk dengan manis di dalam mobilnya kemudian turun melerai. Memohon agar perdebatan tidak penting itu segera disudahi. Malu, katanya. Masakan dua orang yang berpendidikan berkelahi di jalanan – dia tahu pasti anaknya berpendidikan. Sekolahnya berbelas-belas tahun ini dia yang membayari. Dan perempuan yang mencak-mencak memarahi anaknya juga kelihatannya tidak bodoh-bodoh amat.
“Ayo minta maaf sama mbak ini. Kamu yang mulai duluan,” kata si Ibu. Si anak enggan. Mungkin egonya terusik. Mimpi apa dia semalam, tahu-tahu ada perempuan galak teriak-teriak di depannya. Ditonton orang banyak pula. Duh, saya jadi tidak enak hati. Entah mengapa, saya selalu kalah dengan kelembutan seorang Ibu, “Ya sudahlah, Bu. Saya juga minta maaf karena sudah marah-marah. Mas, lain kali kalau mau berhenti jangan persis di tikungan. Bikin kagok yang lain. Dan, jangan terlalu cepat mengumpat. Nggak baik.” Yang terjadi kemudian adalah adegan maaf-memaafkan. Sesaat, rasanya seperti Lebaran.
Setelah duduk kembali di dalam mobil, saya jadi berpikir, sudah berapa menit saya lewatkan untuk kegiatan tak penting tadi. Kalau tadi saya tidak berhenti, pasti dari tadi sudah dengan manis duduk di rumah. Kalau saja saya mau menebalkan telinga, menahan emosi, khan saya tidak perlu jadi tontonan gratis orang-orang tadi. Alangkah bodohnya.
Tapi, penyesalan memang selalu datang belakangan. Ketika sudah ada kerusakan yang terjadi. Saat dibutuhkan, kemana larinya penguasaan diri? Akhirnya tempatnya diambil oleh emosi dan harga diri yang ukurannya terlalu tinggi.
Mengapa saya ini? Saat ada yang berselisih, saya bilang itu akibat tidak bisa peliharakan lidah. Kemudian, menulis tentang kasih. Baru diteriaki goblok di jalan sudah meradang. Ah, saya malu sekali.
Permisi dulu ya, saya mau sembunyi. Paling tidak sampai malu di hati ini pergi.
Friday, March 20, 2009
Si Goblok Jadi Malu
Friday, February 27, 2009
Ada Apa di Belakang Kasihmu?
“Des, tolong nanti kalau kamu kasih sumbangan dari kantor kita ke RS itu, jangan lupa difoto ya. Untuk dokumentasi kantor,” itu pesan boss saya ketika saya mau berangkat menyerahkan dana bantuan banjir besar yang melanda Jakarta th 2002 yang lalu. Saya bingung, kenapa harus difoto segala? Kalaupun takut dananya tidak sampai, toh nanti ada tanda terima resmi dari si penerima.
Ternyata masalahnya bukanlah tidak percaya. Manajemen kantor saya hanya mau punya dokumentasi telah memberikan sumbangan sekian puluh juta rupiah plus satu mobil box penuh dengan obat-obatan, selimut, pakaian dan makanan.
Pemberian sumbangan itu kemudian diklaim sebagai wujud kepedulian. Lebih jauh lagi, tanda kasih.
Saya jadi bertanya-tanya, apa iya itu makna kasih bagi mereka? Pernahkan mereka mendengar ungkapan ini, apa yang diberikan oleh tangan kanan tidak perlu diketahui oleh tangan kiri.
Saya tentu tidak punya hak memberikan penilaian atas apa yang orang lain maknai sebagai perbuatan kasih. Saya maklum setiap orang berhak mendefinisikan kasih menurut versinya masing-masing.
Waktu kecil dulu, saya diajarkan bahwa kasih itu murah hati, tidak memegahkan diri, tidak sombong, tidak mencari keuntungan diri sendiri, dan lain-lain. Saya tidak bisa ingat semuanya. Begitulah kalau sekolah minggunya bolong-bolong.
Setelah saya besar (baca: makin tua) dan hidup mulai mengajarkan kepada saya banyak hal, pemahaman saya (pribadi) tentang kasih pun bertambah.
Saya belajar bahwa kasih tidak memerlukan pengakuan dari pihak manapun, karena seperti yang disebutkan di atas, apa yang dilakukan oleh tangan kanan tidak perlu diketahui oleh tangan kiri, apalagi digaungkan oleh mulut.
Kasih tidak memilih-milih karena memilih-milih adalah seyogyanya bukan kasih yang sejati.
Kasih tidak menunggu waktu yang tepat karena waktu yang tepat bisa saja tidak pernah tiba, dan ketika kemudian tersadar, semuanya bisa saja sudah terlambat.
Kasih tidak memihak dan menghakimi, karena saya yakin bahwa memihak tidak membuat kebenaran menjadi pemenang, dan menghakimi hanya akan memperjelas takaran yang akan diukurkan kepada kita nanti ketika kembali ke haribaanNya.
Kasih tidak mengharapkan kembali. Kasih itu tidak perlu balasan, tidak mengharapkan imbalan.
Saya percaya kasih mengawali segala sesuatu dan mengatasi segala sesuatu. Jadi, kalau dasarnya adalah kasih, segala penghalang yang ada, sesulit apapun, niscaya bisa diatasi.
Bagi saya, Ibu Theresa adalah contoh pelaku kasih yang sejati. Demikian halnya dengan Hajjah Rabiah, sang Suster Apung yang mengabdi selama lebih dari 28 tahun di kepulauan Liukang Tangaya di selatan Pulau Sulawesi. Juga Ibu Muslimah, guru Andrea Hirata dan teman-teman Laskar Pelanginya. Pun halnya dengan Butet Manurung dan sekola rimbanya.
Buat kalian pribadi apa arti kasih? Lalu siapa yang menurut kalian juga pantas disebut sebagai pelaku kasih sejati?
Friday, February 20, 2009
Punya Mulut, Tolong Dijaga
Tayangan infotainment tanah air beberapa hari belakangan ini seragam menayangkan perseteruan Catherine Wilson dan Andi Soraya, dua selebriti cantik negeri. Yang disebutkan pertama mengeluarkan pernyataan yang dianggap menyakiti hati yang disebutkan belakangan. Yang tersakiti kemudian melaporkan yang menyakiti ke pihak yang berwajib. Pasalnya pencemaran nama baik dan penghinaan.
Ada yang salah bicara dan ada yang tersakiti. Apabila tidak ada yang minta maaf, ujung-ujungnya lapor polisi. Semuanya berawal dari kealpaan menjaga pintu gerbang emosi.
Karena asal bicara, ketika masih di sekolah dasar saya pernah mengajak berkelahi seorang teman perempuan yang mengatakan hal yang tidak baik tentang ayah saya. Karena kelepasan bicara pula, saya pernah membuat asisten saya di rumah menangis pilu, bagai tertusuk sembilu.
Demikian besar kuasa ucapan sehingga perkataan tajam yang keluar dari mulut tidak saja menusuk sampai ke ulu hati, tapi juga memerahkan telinga, dan memunculkan genangan air di pelupuk mata.
Kala emosi tak lagi dapat dikendalikan, apalagi ketika harga diri sudah tersakiti, memelihara lidah memang bukanlah perkara mudah. Semakin tajam perkataan, semakin imbang sakit hati yang terbalas.
Soal tajam lidah ini juga tidak memilih strata sosial dan tingkat pendidikan. Mau dia tidak pernah menginjak bangku perguruan tinggi, atau pemangku jabatan tertinggi di sebuah negara. Apa jadinya bila Dewi Perssik yang temperamental beradu mulut dengan Samak Sundavarej, mantan Perdana Menteri Thailand yang gampang marah dan mengeluarkan kata-kata tajam itu? Pasti seru.
Kalau tahu perkataan tajam bisa membawa kehancuran pada sebuah hubungan antar manusia, mungkinkan Tuhan akan berpikir seribu kali sebelum menciptakan lidah tanpa tulang?
Friday, February 13, 2009
Jangan Didik Anakmu

Jangan didik anakmu laki-laki......
Jangan didik anakmu perempuan .....
Dapat puisi ini dari milis keluarga. Saya tidak tahu pengarangnya, tapi amat terkesan dengan isinya. Semoga sang empunya tidak berkeberatan bila saya membaginya dengan semua yang belum pernah membacanya.
---------------------------------------------------------------------------
Jangan didik anakmu laki-laki bahwa kekuatan dan keperkasaan adalah segalanya.
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu laki-laki untuk mengejar kehormatan dan kekuasaan.
Ajari dia untuk mengejar cinta kasih dan kebijaksanaan
Jangan larang anakmu laki-laki jika ia menangis
Dan jangan katakan padanya bahwa laki-laki tak boleh cengeng
Ajari dia untuk mengenali dan menerima perasaannya
bahwa air mata adalah anugerah Tuhan yang indah
sehingga ia belajar untuk tidak frustasi oleh emosinya
dan jika dewasa ia telah belajar untuk hidup dengan seutuhnya
Jangan didik anakmu perempuan bagaimana menjadi cantik
Ajari dia untuk mencintai dan menerima dirinya apa adanya
Jangan didik anakmu perempuan bagaimana untuk menyenangkan laki-laki
Ajari dia untuk menyenangkan hati Tuhan
Jangan larang anakmu perempuan
jika ia menikmati melompat, berlari, dan memanjat
jika ia suka menjelajah dan mengutak-atik benda-benda
Jangan kaupaksa dia untuk duduk manis diam dan tenang
karena jiwanya yang ingin bebas jadi dirinya sendiri
dan juga rasa ingin tahunya yang telah Tuhan anugerahkan
telah kau bonsai dan kaurusak sejak dini
Isilah rumahmu
dengan cinta, hikmat, dan kebijaksanaan
bukan dengan harta, keindahan tubuh, gelar, dan kekuasaan
bagikanlah kepada anakmu laki-laki dan perempuan
keindahan menikmati mentari pagi
kehangatan rasa ketika menggenggam pasir
kemesraan seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga
dan merdunya suara tetes-tetes hujan
Jika kau ingin anakmu rajin beribadah, gemakan keberadaan Tuhan dalam dirimu
Ia takkan bisa kaupaksa berdoa dan sembahyang
ketika dia tak dapat menangkap makna ibadah darimu
Jika kau ingin anakmu mencintai pengetahuan,
Pancarkan rasa ingin terus belajar
Nasihatmu tak akan bisa membuatnya mau membaca
Ketika dia tak pernah menyaksikan engkau menikmati buku
Jika kau ingin anakmu penuh kasih
Tunjukkan cinta kasihmu kepadanya dan sesama
Kata-kata saja tidak akan mempan membuatnya mengasihi
Jika ia tak pernah merasakan cinta darimu
Untuk anakmu
Engkau adalah teladan yang utama
Tak perlu banyak kata, tiada perlu jutaan nasihat
Jika kau ingin anakmu hidup seperti yang kauinginkan
Hiduplah demikian!
Friday, January 30, 2009
This One's for the Children
Video di atas adalah salah satu media advokasi yang dikeluarkan oleh Unicef mengenai hak anak untuk mendapatkan pendidikan.
Di masa yang semakin sulit ini, amat sangat disayangkan perlindungan terhadap hak-hak anak cenderung terabaikan. Ketika periuk nasi sudah lama kosong, maka anak-anak pun terpaksa menanggalkan seragam dan tas sekolahnya untuk membantu emak dan bapaknya mencari uang. Anak-anak yang lebih malang mungkin bahkan tidak pernah punya kesempatan memakainya sama sekali.
Sebagian besar dari mereka bekerja dengan jam kerja yang sangat panjang dan oleh karenanya kehilangan peluang pendidikan yang seharusnya bisa memberikan mereka masa depan lebih baik.
Menurut data yang dikeluarkan oleh ILO, saat ini ada sekitar 166 juta anak di seluruh dunia menjadi pekerja anak, dan 74,4 juta anak di antaranya bekerja di sektor pekerjaan yang berbahaya. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi menyatakan jumlah pekerja anak di Indonesia terus bertambah tiap tahun. Pada 2008, diperkirakan jumlahnya telah mencapai 6,5 juta orang anak.
Dalam pernyataannya kepada Tempo usai beraudiensi memperingati Hari Dunia Melawan Eksploitasi Anak dengan Komisi Kesehatan dan Tenaga Kerja DPR RI, kebanyakan pekerja tersebut, kata Seto, lahir dari kondisi ekonomi keluarga yang miskin. "Jumlahnya naik 30-80 persen setiap tahun, bertambah seiring jumlah anak putus sekolah dan kekerasan terhadap anak yang terus meningkat."
Dra. Magdalena Sitorus, Wakil Ketua II Komisi Perlindungan Anak Indonesia mengatakan perlindungan anak masih belum tertata dengan baik dari segi kebijakan, hingga saat ini, karena banyak kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan anak tidak menggunakan Konvensi Hak Anak (KHA) sebagai dasar pertimbangan, termasuk UU Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002. Mungkin karena cara pandang pemerintah pada saat itu (orde baru), dalam membuat kebijakan masih merujuk pada pemenuhan dasar (needs based) khususnya disektor pendidikan, kesehatan, gizi dan kesejahteraan sosial, yang semestinya harus merujuk pada pemenuhan hak (rights based), termasuk persoalan perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi dan penelantaran.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia bahkan mendesak agar peningkatan status KHA dan ratifikasi 2 optional protocol (tentang perdagangan anak, pronografi dan prostitusi, serta tentang pelarangan pelibatan anak dalam konflik bersenjata) menjadi UU segera disahkan.
Lalu apa jalan keluar yang paling baik bagi masalah pekerja anak ini. Para ahli meyakini bahwa jalur pendidikan merupakan jalan keluar terbaik untuk mengatasi masalah pekerja anak di Indonesia. Langkah itu tidak saja mengembalikan pemenuhan hak-hak anak atas pendidikan dan kesempatan pengmbangan diri, tetapi juga mengeluarkan anak dari lingkungan kerja yang seringkali merugikan kesehatan dan keamanan anak.
Pendidikan yang bagaimana? Menurut Irwanto dari Lembaga Penelitian Unika Atma Jaya, berkaitan dengan kondisi khusus yang dihadapi pekerja anak itu, bentuk pendidikan yang dinilai paling tepat bagi pekerja anak adalah sekolah yang bersifat terbuka dan fleksibel (open-flexitime school). Artinya, anak boleh memilih jam sekolah sesuai waktu luangnya. Kelompok belajar, dan kelas jarak jauh juga merupakan alternatif yang bisa ditempuh.
Sementara itu, aktivis Jaringan Penghapusan Pekerja Anak, Ahmad Marzuki, mengatakan, kurikulum yang diberikan pada pekerja anak tidak harus sama dengan yang diberikan di sekolah formal. Pekerja anak, menurutnya, lebih memerlukan pendidikan yang bersifat lebih praktis dan meningkatkan kemampuan ekonomis mereka.
Siapa yang bertanggungjawab untuk menyelesaikan masalah ini? Mungkinkah pemerintah menjadi single fighter dalam peperangan ini? Tentu tidak. Pemerintah harus bermitra dengan stakeholder lain yang dapat memberikan bantuan advokasi, teknis, dan juga dana. Pemerintah juga sebaiknya merangkul para toga (tokoh agama) dan toma (toma masyarakat).
Organisasi tempat saya bekerja, Unicef, sudah lebih dari 60 tahun bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, berjuang untuk kesejahteraan anak Indonesia. Di akhir tahun 2008 yang lalu Pemerintah Indonesia dan Unicef menandatangani perjanjian kerja sama senilai 93,5 juta dollar AS untuk meningkatkan upaya memperbaiki kondisi anak-anak Indonesia di tahun 2009 dan mendukung pemenuhan hak-hak mereka. Mendukung upaya Pemerintah mengatasi masalah yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak, malnutrisi, akses terhadap air bersih dan sanitasi lingkungan, pendidikan dasar, perlindungan anak, HIV/AIDS dan dukungan dalam keadaan darurat. Program-program tersebut akan dilaksanakan di 16 provinsi dan 122 kabupaten serta kota di seluruh Indonesia.
Sejalan dengan perjuangan Unicef, saya percaya bahwa setiap anak lahir dengan hak-haknya. Hak untuk mendapat pendidikan, untuk menjadi sehat dan memperoleh pelayanan kesehatan, hak atas nama dan kebangsaan, dan hak untuk kesetaraan. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk mengawali kehidupan mereka dengan cara terbaik. Awal yang baik menciptakan fondasi yang juga baik.
Lalu, apakah harus menjadi lembaga donor untuk bisa membantu anak-anak di negara kita? Harus menjadi bagian penentu kebijakan dulu untuk dapat berbuat sesuatu? Tentu tidak. Kita juga bisa berbuat sesuatu kok untuk perbaikan nasib anak-anak Indonesia. Mau tahu caranya? Klik saja disini.
Saturday, January 17, 2009
Jangan Ada Preman Diantara Kita
Namanya Stanley. Masih terhitung kerabat, walau tak setahun sekali bertemu. Orang-orang bilang dia preman. Mungkin saja benar. Tampangnya seram. Dari bahasa tubuhnya juga kelihatan kalau dia terbiasa mengintimidasi. Bicaranya tidak bisa pelan. Cenderung kasar malah. Intinya, saya takut kalau harus berlama-lama duduk berdekatan dengannya.
Di daerah kekuasannya dia dipanggil Gepeng. Mungkin karena badannya yang tipis, tinggal kulit membungkus tulang. Bagaimana tidak, daripada makan empat sehat lima sempurna, dia lebih memilih membeli minuman keras, rokok atau putauw. Badan boleh saja cungkring, tapi jangan tanya pengaruhnya. Dia disegani oleh gerombolan preman di daerahnya. Apalagi oleh para rooky. Semua tunduk padanya.
Gepeng luput dari Operasi Kejahatan Jalanan di lima Polda akhir tahun kemarin. Dia sudah keburu check-out dari dunia ini beberapa tahun yang lalu. Mayatnya ditemukan mengapung di sungai ciliwung.
Bukan, dia tidak dibunuh. Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Dia loncat dari jembatan waktu sakauw. Iya, Gepeng ceritanya sudah mau bertobat. Dia tidak mau lagi mengkonsumsi barang haram itu. Mau ke panti rehabilitasi tidak punya uang. Mau detox sendiri, tidak kuat. Akhirnya dia memilih jalan pintas itu. Loncat dari jembatan.
Sudahlah, saya tidak mau membicarakan bagaimana kerabat saya itu mati. Itu urusannya dengan Tuhannya.
Tapi pemandangan di rumah duka di pagi sebelum jenazah dimakamkan so spoke for itself. Gepeng dicintai banyak orang. Rumah kecil di gang yang juga kecil di daerah Kampung Melayu itu seolah tidak mampu menampung jumlah pelayat yang bergantian hadir. Banyak sekali orang yang datang dan menangisi kepergiannya. Rekan sesama preman tentu saja. Keluarga sudah pasti. Rombongan dari Gereja, ya iyalah. Khan memang sudah ada SoPnya.
Tapi ada juga ibu-ibu yang biasa berjualan di pasar. Katanya Gepeng suka membela mereka ketika petugas keamanan pasar yang suka melakukan pungutan liar datang dan menakut-nakuti mereka. Lalu ada Oma dan Opa yang katanya sering dibantu Gepeng ketika hendak menyeberang di jalan Otista yang tidak pernah sepi itu.
Kemudian ada segerombolan anak SD datang ditemani oleh gurunya. Mereka menangisi Om Gepeng yang katanya suka nongkrong di sekolah mereka dan membantu anak-anak itu naik ke mikrolet atau bajaj, atau hanya sekedar bercanda dengan mereka.
Kemudian ada serombongan supir mikrolet dan metromini. Ketika mendengar Gepeng meninggal dan akan dimakamkan hari itu, mereka segera memutuskan tidak narik beberapa rit demi untuk memberikan penghormatan terakhir buat sang preman. Akhirnya jadilah konvoi mikrolet dan metromini gratis ke pemakanan.
Cerita Gepeng sudah selesai. Tidak penting apakah dia sudah mengakhiri pertandingannya dengan baik atau tidak. Bagi keluarganya, dia sudah mengkahiri penderitaan panjangnya. Bagi orang-orang yang saya sebut di atas, dia preman yang baik hati. Bagi aparat keamanan, satu kuman penyakit masyarakat sudah mati.
Tapi persoalan memerangi kejahatan di negara ini masih jauh dari selesai. Pada penghujung tahun lalu, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri memprakarsai Operasi Razia Preman yang dilaksanakan di lima Polda di negeri ini – Sumatera Utara, Metro Jaya, Jaya Tengah, Jawa Timur dan DIY. Sedangkan dua Polda lainnya, yakni Polda Sulawesi Tengah dan Jambi melakukan kegiatan tersebut sebagai kegiatan penyeimbang. Rencananya, Polda se-Indonesia akan serentak melaksanakan operasi serupa untuk menekan terjadinya angka kejahatan di tanah air.
Lalu mengapa hanya para preman jalanan yang jadi sasaran? Hanya mereka itu yang disebut penyakit masyarakat? Bukankah tindakan premanisme adalah tindak kriminal yang dilakukan, bisa dengan kekerasan tapi juga bujuk rayu yang sopan. Yang penting adalah tindakan itu mencapai tujuan. Pelaku menghalalkan segala cara untuk mengecoh korbannya. Halus atau kasar, kejahatan tetaplah kejahatan.
Jadi, bukankah para pencuri uang rakyat dan penyalah guna jabatan dan kekuasaan juga dapat dimasukkan dalam kategori ini? Para dosen yang memaksa mahasiswa membeli diktatnya, dan pengurus sekolah yang bekerja sama dengan penerbit tertentu dalam penyediaan paket buku pelajaran? Bagaimana dengan institusi keuangan yang menyewa jagoan-jagoan untuk dijadikan debt collector? Bukankah seharusnya mereka juga tidak luput dari operasi ini?
Kalau demikian keadaannya, bukankah artinya hampir semua unsur dan lapisan masyarakat kita sudah tidak lagi kebal terhadap virus ‘premanisme’ ini, dalam derajadnya masing-masing?
Bagaimana dengan domain kepejabatan–legislatif, eksekutif dan yudikatif kita? Sama saja bukan? Tidak ada lembaga yang immune terhadap virus korupsi dan penyalahgunaan jabatan dan kekuasaan.
Memang virus premanisme (halus dan kasar, kelihatan dan tak kelihatan) sudah mulai menjadi pandemik di negara kita ini. Jauh lebih luas penyebarannya dari virus flu burung yang kesiapan penanganannya sudah jauh lebih baik, dengan diselenggarakannya simulasi kesiapan pandemik di beberapa daerah beresiko tinggi di negara ini. Atau mungkin aparat hukum kita juga perlu melakukan simulasi yang sama untuk memberantas virus premanisme ini? Sebelum dia benar-benar menjadi pandemik?
Kembali kepada operasi pemberantasan preman jalanan. Apa yang akan dilakukan pasca penangkapan para preman ini? Memberantas preman jalanan memang dibutuhkan masyarakat. Langkah konsepsional berikutnya akan ditunggu banyak orang, yakni bagaimana menyalurkan mereka ke panggung nafkah yang baik karena “preman” tentunya bukan pilihan bebas—melainkan terpaksa.
Saya tidak tahu kapan pertanyaan ini akan terjawab, atau akankah terjawab. Yang saya tahu, ada kerinduan di antara kita bahwa premanisme di negara kita, apapun bentuknya, tidak lagi menjadi penyakit yang belum ada penyembuhnya. Semoga aparat penegak hukum kita segera dapat menemukan vaksinnya.
Friday, January 9, 2009
Yang Sebenarnya

Belakangan ini laptop saya lebih banyak berada di atas meja kerja di rumah daripada di tempat sebenarnya – sesuai dengan namanya – di atas pangkuan saya.
Tidak ada alasan yang jelas. Beberapa minggu yang lalu memang saya tidak punya cukup banyak waktu untuk bermain-main dengannya. Tapi sekarang? Pekerjaan kantor yang menumpuk sudah rampung. Liburan akhir tahun dengan segala godaannya sudah berlalu. Kegiatan keseharian sudah kembali ke ritme normalnya, allegro di pagi hari, moderato di siang hari, adagio di malam hari.
Beberapa teman sudah berteriak di shout box meminta saya bangun dari tidur panjang dan mulai menulis. Tapi, sampai saat saya menulis ini, tidak ada sedikit pun inspirasi tulisan baru yang melintas. Bola lampu yang biasa berpendar-pendar di dalam alam pikiran saya setiap ada ide yang muncul sudah lama tidak menyala. Mungkin bohlamnya putus.
Ya. Saya sedang mati gaya. Kehabisan ide. Tidak tahu mau menulis apa. Mau menulis tentang Palestina atau krisis ekonomi global, saya merasa tidak cukup pintar. Mau menulis tentang masakan, nggak bisa masak. Mau menulis tentang perjalanan wisata, sudah lama saya tidak pergi pesiar.
Akhirnya, palingan saya lagi-lagi menulis hari-hari saya dengan Rocky. Ya typical tulisan Ibu-Ibulah. Bagi sebagian orang mungkin membosankan, tidak menarik, dangkal. Hehehe…. Mungkin memang iya. Tapi hey, saya menulis dengan hati. Dan yang membuat rangkaian melodi yang indah di hati ini memanglah cerita hidup di dunia saya yang kecil dengan Rocky. Cerita tentang Rocky dan cerita kejadian-kejadian remeh-temeh nan cetek itulah yang kerap menyalakan bola lampu di alam pikiran saya.
Ya. Saya memang harus jujur pada diri sendiri. Sudah berminggu-minggu mencari ilham tulisan yang ‘lebih berisi’, tapi sepertinya yang berbobot itu emoh mampir di kepala saya. Ya sudah. Istirahat saja dulu - Menikmati blog walking, mencari teman-teman baru, meninggalkan komen disana-sini.
Nanti kalau ilham itu datang, bola lampu menyala terang lagi, jari-jari saya akan dengan lincahnya menari lagi di atas keyboard (nggak sia-sia dulu belajar mengetik 10 jari. Jadi walaupun ide macet, tapi mengetiknya masih lancar. Halaaaah, apaan sih?)
Thursday, December 11, 2008
When I Need YOU Most
Sudah lama juga rumah saya ini nggak diurus. Mbak Ernut bilang di shoutbox, cerita telenovela-nya sudah kepanjangan. Belum ada cerita baru. Iya juga ya. Sudah tiga minggu lebih blog ini ditinggal yang punya.
Pekerjaan menjelang akhir tahun ini sedang ‘lucu-lucunya’. Kepala saya yang kapasitas memorinya sepertinya masih 16 MB ini sudah penuh dengan things to do today. Mencari ide untuk postingan rasanya menjadi pekerjaan yang sulit sekali. Saya memang tidak sekreatif adik ipar saya, Nita, atau duo emak yang sepertinya tidak pernah kehabisan ide. I envy them.
Selain pekerjaan yang sedang banyak-banyaknya, sepulang dari kantor saya masih harus ‘dinas’. Jadi satpam, jagain Rocky belajar untuk ujian semesterannya. Pekerjaan yang ini lebih besar lagi tantangannya. Anak lelaki umur delapan tahun itu sudah melewati masa lucu-lucunya. Yang tinggal hanya cuek dan sok tahu. Kalau diajarin sok tahu. Bila dinasehati, cuek. Benar-benar uji kesabaran.
Memang benar kata ibu saya, jadi orang tua itu tidak gampang. Saya khan inginnya Rocky nantinya bisa jadi manusia yang berakhlak baik. Karena kalaupun dia menjadi orang yang sukses dan bisa memiliki segalanya, toh dia tidak bisa membeli akhlak baik. Makanya saya ingin menanamkan values yang baik sejak dia kecil.
Salah satunya adalah soal hubungannya dengan penciptaNya. Dari kecil saya ajarkan untuk berdoa. Mencoba untuk menanamkan selain hubungan yang baik dengan sesama, kita juga harus dekat pada Yang Di Atas. Mulai dari hal-hal yang kecil saja. Bangun tidur, berdoa. Mau makan, berdoa. Mau tidur, berdoa. Setelah dia mulai masuk sekolah, daftar doanya juga bertambah. Doa sebelum berangkat ke sekolah dan doa kalau mau ulangan.
Mula-mulanya semua berjalan lancar. Tapi, belakangan berdoanya mulai bolong-bolong. Sering karena sudah keasyikan nonton TV, dia nonton sampai tertidur. Lupa berdoa. Telat bangun pagi, langsung terbirit-birit ke kamar mandi. Lupa berdoa.
Waktu saya tanya kenapa dia sekarang suka lupa berdoa, jawabnya, “Aku buru-buru, Ma. Tadi aku berdoa koq. Dalam hati.” Huh, bisa aja.
Tapi yang bikin saya sedih adalah ucapannya ketika saya menemaninya sebelum tidur beberapa hari yang lalu. Sambil menggosok-gosok punggungnya (kesukaannya sebelum tidur), saya ingatkan, “Rock, besok sebelum mulai ngerjain test-nya kamu jangan lupa berdoa ya.” Eh dia jawab, “Aku nggak perlu pertolongan, Ma. Aku khan udah belajar. Nilaiku khan selalu bagus.” Dug… hati saya kayaq ditonjok King Kong. Ngilu banget. Lha koq anakku jadi begini.
Saya bilang, “Mama nggak sangka, anak mama jadi sombong kayaq begini. Memangnya kamu pikir kepintaran kamu itu datangnya dari mana? What happened with I’ll do my best and God will do the rest, Rock?” Dia terdiam. Saya bilang, “Kamu ingat nggak ceriita Tuhan menolong Yusuf dan Musa?” Itu cerita favoritnya. “Mereka jadi orang besar karena pertolongan Tuhan”. Rocky nggak menjawab. Saya berharap semoga dia mendengar yang barusan saya ucapkan. Soalnya nggak lama kemudian, saya sudah dengar dengkur halusnya. Ampuuun deh.
Keesokan harinya adalah hari terakhir test. Saya tidak tanyakan apakah dia tadi sempat berdoa atau tidak. Saya masih kecewa. Rocky juga tidak cerita. Dia malah sibuk main play station. Kelihatannya gamenya sulit. Dia sampai harus konsentrasi penuh. Saya curi-curi lihat. Ketahuan dia sudah kalah beberapa kali. Nggak berapa lama kemudian, sampailah kepada suatu saat yang sepertinya genting. Rocky sudah mulai gelisah. Kayaqnya dia bakalan kalah lagi. Pada detik-detik terakhir sebelum sang musuh melancarkan serangan pamungkasnya dia berteriak, “Tuhan tolong aku!” Eh, ya ndilalah jagoannya nggak jadi mati.
Dia menoleh, tersenyum, “Mama benar. Kalau kita berdoa, Tuhan pasti tolong.” Halah Rock.
